Selasa, 22 Maret 2016

Nilai Majemuk

Halo. Apa kabar?

Salah satu penerapan dari nilai waktu uang (time value of money) adalah nilai majemuk (compound value). Nilai majemuk adalah sejumlah uang pada awal periode ditambah dengan bunga yang diperoleh dari uang tersebut pada periode tertentu. Apabila uang tersebut tidak diambil, maka nilai majemuk akhir periode akan menjadi simpanan pokok pada awal periode dan menjadi nilai majemuk pada akhir periode berikutnya.

Agak bingung?

Begini rumusannya.
F = P * (1 + i)^n
F = nilai majemuk yang akan diperoleh pada akhir periode
P = simpanan awal atau simpanan pokok
I = interest atau bunga

n = periode

Bila kita menyimpan uang di bank sebesar Rp10.000.000 di bank, bunga yang ditawarkan yaitu 10% per tahun, selama 10 tahun, berapa uang kita pada 10 tahun mendatang di bank?
Untuk mencari nilai majemuk, Excel telah memiliki fungsi future value (fv). Format fv pada Excel
=fv(rate; nper; pmt; [pv]; [type])

Ayo buka Excel kita.
Pada perintah berikut, ketikkan pada sel yang sesuai.
B4 = simpanan awal.
C4 = 10000000. Di sini kita masukkan angka 10.000.000. Jangan lupa format currency dalam bentuk Rp.

B5 = bunga
C5 = 10. Di sini kita masukkan angka 10. Jangan lupa format sel dalam bentuk percentage.

B6 = periode
C6 = 10. Di sini kita masukkan angka 10. Nilai ini berarti periode 10 tahun.

B7 = jumlah uang akhir periode
C7 = fv(C5; C6; 0; -C4; 0)

Kita sudah bisa mengetahui bahwa uang kita pada 10 tahun mendatang dengan bunga flat 10% per tahun akan berjumlah Rp25.937.425

Gambar 1. Screenshoot perhitungan di Excel

Bagaimana perhitungan lebih detil untuk tiap periode? Kita bisa mengetahuinya dengan membuat perintah sebagai berikut.
Ketikkan text pada sel berikut ini.
B11 = periode
C11 = jumlah uang periode awal
D11 = bunga
E11 = jumlah uang periode akhir

Lalu format currency Rp pada sel C12, D12, dan E12

Lalu pada sel berikut ini, ketik angka atau fungsi:
B12 = 1
C12 = C4
D12 = if(B12=””;””;C12*$C$5)
E12 = if(B12=””;””;C12+D12)

Buatlah periode pada kolom B dari angka 1 sampai 10.

Lalu, bagaimana kolom jumlah uang periode awal, bunga, dan jumlah uang periode akhir?

Itu adalah PR anda.

Bila anda benar melakukannya, maka tampilan dan perhitungan Excel anda akan menjadi terlihat seperti ini.

Gambar 2. Screenshoot perhitungan Excel untuk periode 1-10

Mudah bukan?





Kamis, 03 Maret 2016

Suka Bunga Negatif

Muhamad Chatib Basri
Kompas, Selasa 1 Maret 2016

“Kita tak perlu peramal cuaca untuk menebak ke mana arah angin”. Begitu lirik lagu Bob Dylan, “Subterranean Homesick Blues”, 51 tahun yang lalu. Pesannya sederhana, kita tak butuh ahli untuk mengatakan apa yang kita sudah tahu. Namun, lirik Dylan ini tampaknya tak sepenuhnya cocok untuk membaca arah perubahan ekonomi global, karena bahkan para peramal ekonomi pu - seperti biasa - kesulitan untuk membaca arah angin.

Sejak tahun 2013, banyak negara emerging market (EM/perekonomian-perekonomian bertumbuh) - yang berbicara mengenai kekuatiran dampak normalisasi kenaikan bunga di Amerika Serikat (AS). Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia pun mengingatkan hal yang sama.

Di sisi lain, Larry Summers dari Harvard Kennedy School bicara mengenai bahaya dari the secular stagnation atau kemandekan ekonomi yang panjang. Summers mengingatkan, walau tingkat bunga sangat rendah, inflasi tak terjadi, ekonomi tetap tak berjalan. Karena itu, Summers berkali-kali mengingatkan The Fed agar tak menaikkan bunga. Toh, The Fed tetap menaikkan bunga 25 basis point Desember 2015. Namun, karena kebijakan ini sudah diantisipasi pasar, dampaknya terhadap emerging economies relatif kecil, bahkan memberikan kepastian bagi negara-negara emerging economies.

Meski demikian, setelah itu angin berubah. Situasi di Tiongkok semakin memburuk. Angin pertumbuhan ekonomi di AS terkesan rapuh. Jepang terancam deflasi. Menghadapi kondisi ini, Bank Sentral Jepang mengikuti langkah beberapa negara Eropa: menerapkan kebijakan suku bunga negatif. Janet Yellen, Ketua Federal Reserve Bank AS, dalam pertemuan tengah tahunan dengan Kongres menyatakan, The Fed tidak menutup kemungkinan suku bunga negatif di AS walaupun ia belum melihat perlunya langkah itu.

Pernyataan Yellen ini kemudian diterjemahkan oleh pasar bahwa The Fed akan menunda kenaikan bunga. Lalu, modal mulai mengalir kembali ke emerging economies. Ringgit menguat, rupiah menguat, apalagi setelah Jepang menerapkan bunga negatif.

Bagaimana dampak perkembangan terakhir ini bagi perekonomian emerging economies, khususnya Indonesia?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, mungkin baik jika kita memahami secara sederhana tentang tingkat bunga negatif itu. Dalam situasi ekonomi yang baik, tanpa didorong atau “dihukum” pun, perbankan akan mengalirkan kreditnya. Namun, dalam ekonomi yang tak pasti, perbankan cenderung untuk menahan kreditnya, akibatnya akan banyak kelebihan uang tunai (excess reserve) di perbankan. Alasannya, risiko kredit macet besar, selain itu toh karena bunga rendah, biaya memegang uang tunai (opportunity cost) relatif rendah.

Akibatnya, walau bunga rendah, kredit tidak mengalir, ekonomi mandek. Karena itu, bank sentral kemudian menerapkan tingkat bunga negatif. Dengan kebijakan ini, bank komersial bukan hanya tidak mendapatkan bunga dari bank sentral jika memegang excess reserve, tetapi ia harus membayar bunga kepada bank sentral.

Semakin banyak excess reserve yang dipegang bank, semakin besar bunga yang harus ditanggungnya. Beban ini tentu akan dibebankan kepada penabung. Akibatnya, jika penabung menempatkan uang di Bank, mereka harus membayar bunga kepada perbankan. Bisa dibayangkan, penabung akan terdorong untuk menarik uangnya dari perbankan dan memegang uang tunai. Ini bisa berakibat berkurangnya dana pihak ketiga dari perbankan.

Suku Bunga dan Arus Modal
Menarik melihat pengalaman negara Eropa yang menerapkan kebijakan ini. Di sana, perbankan ternyata tidak menarik bunga dari penabungnya.karena kuatir nasabahnya akan lari. Perbankanlah yang menanggung beban nasabah. Langkah ini membuat keuntungan perbankan menjadi semakin kecil, dan mereka justru enggan untuk menyalurkan kredit.

Selain itu, kebijakan bunga negatif membawa implikasi yang besar, misalnya terhadap alokasi di pasar uang, asuransi, dan dana pensiun dan juga imbal (yield) obligasi. Dengan bunga negatif, imbal obligasi pun menjadi negatif. Bisa dibayangkan bahwa para investor di Jepang dan Eropa berduyun-duyun akan mengalihkan investasinya ke negara yang memberikan imbal hasil yang tinggi.

Dengan kondisi ekonomi AS yang masih rapuh, dan kemungkinan ditundanya kenaikan bunga The Fed, serta penerapan kebijakanbunga negatid di Jepang dan Eropa, maka mungkin arus modal akan mengalir ke emerging economies, termasuk Indonesia. Alasannya, imbal dari sektor keuangan Indonesia relatif tinggi saat ini. Selain itu, walau ekonomi Indonesia 2015 hanya tumbuh 4,8 persen, ini relatif lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain.

Oleh karena itu, saya tidak akan terlalu terkejut apabila akan terus menerus menguat ke depan, begitu pula pasar modal dan obligasi di Indonesia. Artinya, Indonesia akan memiliki ruang untuk menjadi surga aman (safe heaven). Bukan karena kita sangat baik, tetapi situasi global jauh lebih buruk (one of least unattractive countries in the world). Dorongan eksternal ini tiba-tiba akan membuat pemulihan ekonomi seperti terjadi tiba-tiba.

Meski demikian, kita harus tetap hati-hati, terutama terhadap perkembangan ekonomi Tiongkok. Bukan tidak mungkin satu hari Tiongkok melakukan devaluasi renminbi yang akan mengguncangkan pasar. Lepas dari ancaman itu, jika situasi di Tiongkok lebih pasti, aliran modal akan datang ke sini, investasi meningkat, pertumbuhan ekonomi bisa didorong. Ini kesempatan bagi Indonesia.

Namun, ada baiknya kita belajar dari berbagai pengalaman pada masa lalu dan juga pengalaman negara lain. Situasi ini akan mirip dengan situasi AS memberlakukan Quantitative Easing, yakni likuiditas membanjiri Indonesia. Investasi meningkat dan nilai tukar menguat. Sejarah bisa berulang. Jika arus modal mengalir deras, defisit anggaran terus ditingkatkan - apalagi jika ini terjadi akibat kurangnya penerimaan pajak - dan impor barang modal untuk infrastruktur meningkat drastis, maka defisit transaksi berjalan akan melonjak.

Di sisi lain, penguatan rupiah, dan terus melemahnya ekonomi Tiongkok, akan membuat ekspor kita terpukul. Maka, jangan terkejut jika dalam dua tahun defisit transaksi berjalan akan kembali meningkat. Dan jika hal ini terjadi, bersamaan dengan kenaikan bunga The Fed (satu hari The Fed harus menaikkan bunga juga), arus modal akan berbalik AS. Perekonomian Indonesia akan kembali dalam tekanan. Kita harus mengantisipasinya.

Saya melihat ada ruang bagi Bank Indonesia untuk secara alami menurunkan bunga jika inflasi bisa dijaga cukup rendah. Bunga yang rendah ini sedikit banyak akan meredam arus modal jangka pendek. Namun di sisi lain, mungkin defisit anggaran harus dijaga. Defisit anggaran yang terlalu besar akan meningkatkan defisit transaksi berjalan.

Memanfaatkan Peluang
Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan? Jawabannya adalah mengalirkan arus modal ini ke dalam bentuk investasi langsung yang berorientasi ekspor. Di sini saya kira langkah pemerintah untuk merevisi Daftar Negatif Investasi (DNI) adalah langkah yang tepat. Begitu pula dengan deregulasi ekonomi. Dengan ini, ruang bagi pasar dibuka lebih luas sehingga kalaupun defisit transaksi berjalan pada akhirnya akhirnya meningkat. Modal tak mudah meninggalkan Indonesia lagi. Apalagi jika modal itu masuk ke sektor ekspor, defisit transaksi berjalan dapat diijaga, begitu juga tekanan pada nilai tukar rupiah.

Namun, jika arus modal yang masuk terfokus pada investasi portofolio atau pasar domestik, risiko pembalikan arus modal sangat besar. Modifikasi dari penerapan Tobin Tax juga bisa dipikirkan, misalnya fee untuk transaksi modal jangka pendek dikenakan jauh lebih tinggi daripada modal jangka panjang. Dengan ini, arus modal jangka pendek (hot money) dapat lebih diseleksi.

Sejarah sedang berulang. Kita harus lebih memanfaatkan peluang ini sebaik-baiknya. Saya jadi teringat obrolan ringan di kedai kecil di Harvard Square dengan Carmen Reinhart beberapa bulan yang lalu. Ekonom dari Harvard School ini mengingatkan masalah utama dari pembuat kebijakan adalah mereka terlalu percaya pada empat kata: kali ini situasi berbeda (this time is different).

Setiap kali utang meningkat dan arus modal masuk, pembuat kebijakan cenderung untuk mengatakan bahwa kali ini risiko krisis amat kecil. Alasannya: ekonomi baik dan situasinya berbeda. Reinhart mengingatkan, krisis keuangan kerap kali - walau tak selalu - bermula dari arus modal masuk yang masif, lalu penguatan nilai tukar, meningkatnya defisit transaksi berjalan dan akhirnya pembalikan arus modal.

Reinhart mungkin benar, situasi ini memang tak berbeda. Namun, dengan membuka ruang untuk arus modal langsung yang lebih luas ke sektor ekspor, Tobin tax, kesempatan bisa diraih, risiko pembalikan modal bisa diantisipasi. Ini perlu dilakukan sebelum angin kembali berubah arah. Bob Dylan mungkin benar, kita tidak membutuhkan peramal cuaca untuk menebak arah angin. Namun itu bukan karena kita sudah tahu, tetapi karena angin begitu cepat berubah.

Jumat, 26 Februari 2016

Amortisasi

Koran Surya, 19 Januari 2016
Eko P. Pratomo

Amortisasi merupakan suatu penyusutan suatu nilai aset yang dicantumkan dalam neraca keuangan usaha.

Jika depresiasi adalah penyusutan nilai ekonomi suatu aset tetap yang berwujud, misalnya mesin, yang dialokasikan sebagai bagian dari biaya operasional sebagai akibat penggunaan mesin tersebut, maka amortisasi adalah penyusutan sejenis namun terhadap nilai ekonomi dari suatu aset tetap yang tidak berwujud.

Contoh dari aset tetap yang tidak berwujud adalah merek dagang, hak sewa, dan yang lainnnya. Sebagai ilustrasi, bagi pengusaha yang mendapatkan lisensi untuk memproduksi dan menjual suatu produk dari suatu merek dagang tertentu, dengan membayar misalnya 250 juta rupiah selama lima tahun, maka biaya perolehan untuk mendapatkan lisensi tersebut dicatatkan dalam neraca keuangan sebagai aset tetap tidak berwujud.

Terhadap hak penggunaan merek dagang tersebut, perlu disusutkan sebagian nilai ekonominya setiap tahun sesuai jangka waktu berlakunya lisensi tersebut. Dalam hal ini, jika digunakan metode penyusutan dengan metode garis lurus, nilai aset tetap tersebut akan disusutkan sebesar 50 juta rupiaj per tahun yang akan menjadi biaya operasional dalam laporan laba rugi setiap tahunnya.

Standar Akuntansi
Sama halnya dengan depresiasi, amortisasi juga merupakan bagian dari standar akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan. Selain itu, metode perhitungannya perlu mengikuti peraturan perpajakan, karena penerapan metode penyusutan berdampak pada besarnya pembayaran pajak oleh entitas usaha.

Selain berkaitan dengan standar akuntansi, metode amortisasi juga perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari perencanaan mempersiapkan dana untuk menggantikan atau memperpanjang nilai ekonomi suatu aset guna menjaga keberlangsungan usaha.

Depresiasi

Koran Surya, 12 Januari 2016
Eko P. Pratomo

Bagi pengusaha rumahan atau mikro yang belum memahami pentingnya membuat neraca keuangan dan laporan laba rugi usaha, sering pula mengabaikan penerapan konsep depresiasi.

Depresiasi adalah penyusutan nilai ekonomi aset tetap, misalnya mesin dan peralatan lainnya yang dibutuhkan untuk mebuat suatu produk atau jasa, yang dialokasikan sebagai bagian dari biaya operasional, sebagai akibat penggunaan mesin tersebut.

Sebagai ilustrasi, seorang pengusaha fotokopi membeli mesin fotokopi sebagai aset seharga 20 juta, yang bisa digunakan selama empat tahun. Maka nilai ekonomi aset tersebut akan menyusut sebesar 5 juta per tahun. Pada akhir tahun keempat pengusaha tersebut harus membeli mesin yang baru untuk menggantikan mesin yang lama.

Dalam akuntansi, nilai penyusutan sebesar 5 juta tersebut menjadi biaya operasional dalam laporan laba rugi.

Seandainya pendapatan yang diperoleh pengusaha tersebut adalah 120 juta setahun dan biaya tenaga kerja, kertas, listrik, dan lain-lain adalah 55 juta, maka keuntungan sebelum kena pajak adalah 65 juta.

Hasil tersebut diperoleh jika tidak membebankan biaya penyusutan yang mencapai 5 juta tersebut di atas. Tetapi jika biaya depresiasi dibebankan sebagai biaya operasional, maka akan mengurangi laba menjadi 60 juta, bukan lagi 65 juta.

Biaya depresiasi merupakan biaya yang tidak dikeluarkan secara tunai. Artinya tidak ada uang kas yang dibayarkan seperti biaya-biaya lainnya. Sehingga walaupun secara pembukuan labanya berkurang sebesar 5 juta, namun laba tunai yang diterima adalah 65 juta.

Biaya depresiasi berupah, dengan mencatatkan keuntungan sebesar 60 juta, maka ada dana tunai yang bisa disisihkan dan dialokasikan atau ditabung selama empat tahun ke depan guna membeli mesin fotokopi baru. Depresiasi perlu diterapkan karena merupakan suatu standar akuntansi.

Selain itu, depresiasi juga perlu dilakukan sebagai antisipasi untuk menyediakan dana pengganti aset tetap sebagai alat produksi yang memiliki keterbatasan umur, sehingga bisa menjamin keberlangsungan usaha.

Investasi Emas

Koran Surya, 7 Januari 2016
Jhon Veter

Anda tentu masih ingat ketika harga emas meroket tinggi di awal 2012 lalu banyak orang berkata bahwa emas adalah instrumen investasi paling aman di muka bumi karena harga emas yang cenderung naik dan naik terus.

Sebegitu demam emas di masyarakat, ketika itu sampai ada banyak orang yang berani menggadaikan emas mereka untuk kemudian uang hasil gadai itu dibelikan emas dan selanjutnya mereka gadaikan lagi, demikian seterusnya.

Konsep gadai menggadai ini secara tidak langsung memunculkan sisi leverage atau faktor pengungkit pada investasi emas sehingga keuntungan yang diraih dapat menjadi sangat besar.

Namun demikian, risiko yang ada di dalamnya pun ikut meningkat dengan jauh lebih besar lagi. Konsep leverage dan investasi emas pun menjadi buah bibir di masyarakat. Terlebih, ketika muncul perusahaan yang menjanjikan keuntungan berupa “bunga” atau “dividen” untuk mereka yang mau membeli paket investasi emas dari mereka.

Tentu pemanis bunga atau dividen ini hanya akan berjalan mulus ketika harga emas merangkak naik terus dan terus, dan inilah yang banyak dipikirkan orang karena mereka menganggap emas adalah instrumen paling aman dan tidak pernah turun. Pertanyaannya adalah benarkah demikian?

Sayangnya tidak, sebagaimana prinsip umu dalam pelajaran investasi maka tidak ada instrumen investasi apapun di muka bumi ini yang menawarkan imbal hasil besar tanpa ada risiko yang terkandung di dalamnya, tidak terkecuali emas.

Emas adalah investasi dalam jangka sangat panjang memang selalu mengalami apresiasi pada harganya, tetapi dalam jangka pendek harga emas  sebagaimana komoditas lain juga mengalami fluktuasi entah naik atau turun.

Awas Tertipu
Jika anda membeli emas secara fisik tanpa menggunakan faktor pengungkit seperti menggadaikan maka emas dapat melindungi harta anda terhadap inflasi atau ketidakpastian ekonomi dalam jangka panjang. Masalah muncul ketika anda mulai menggunakan daya ungkit pada investasi emas. Di saat harga emas mengalami penurunan seperti saat ini maka di situ anda akan menanggung kerugian sangat besar.

Prinsip daya ungkit inilah yang kali ini menjadi masalah bagi kebanyakan investor yang merasa tertipu dalam investasi emas mereka. Sehingga tidak aneh jika kita mendengar ada investor yang menderita kerugian sampai 50% dari modalnya meski harga emas hanya turun 20% saja di tahun 2013.

Jadi, apakah emas bukan lagi sebuah instrumen investasi yang menarik lagi? Dalam jangka pendek jawabnya adalah iya.

Namun demikian dalam jangka panjang emas tetaplah menjadi sarana bagi seorang investor, institusi keuangan, atau bahkan negara untuk melindungi daya belinya.

Itu berarti, jika anda masih memiliki uang berlebih maka mungkin ada baiknya untuk mendiversifikasi emas karena dalam jangka panjang emas memang melindungi uang kita. Tetapi perlu diingat, investasi emas yang paling baik bukanlah pada instrumen berdaya ungkit seperti menggadaikan atau dengan mebeli surat promise dari perusahaan lain, karena cara tersebut hanya cocok untuk anda yang ingin berspekulasi dan bukan berinvestasi di emas.

Jika anda memang tertarik dengan investasi emas maka saya menyarankan untuk anda membeli emas secara fisik kemudian menyimpannya di tempat yang aman seperti safe deposit di rumah atau perbankan.

Kredit Waralaba

Koran Surya, 26 Januari 2016
Khomarul Hidayat

Ingin memulai usaha tanpa harus susah payah mencari pasar dan membangun bisnis dari nol? Keinginan itu bisa terwujud dengan sistem waralaba.

Dalam sistem waralaba, anda cukup membayar fee ke pemilik waralaba. Sebagai imbalan, anda berhak menggunakan nama, sistem kerja, dan menawarkan produk dari pewaralaba.

Namun sistem waralaba tidak menghilangkan kendala modal pebisnis baru. Mereka yang tidak punya cukup dana tentu tidak bisa menikmati berbisnis dengan sistem waralaba. Nah, kini kendala modal itu tak ada lagi. Setelah usaha waralaba mengalami booming, banyak bank menawarkan kredit untuk waralaba.

Bahkan, ada bank yang memiliki produk khusus berupa kredit untuk waralaba. Misalnya BRI yang memiliki produk kredit waralaba. Pun, Bank Woori Saudara juga punya penawaran kredit serupa.

Bank lain juga membuka pintu meski tidak spesifik memiliki produk kredit waralaba. Namun, mereka memasukkan kredit waralaba itu dalam kredit usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Untuk mendapat kredit waralaba ini, persyaratan yang harus dipenuhi debitur tak terlalu rumit dan layaknya kredit untuk usaha lain. Skema kredit waralaba BRI, misalnya tak jauh beda dengan skema kredit dengan UMKM. Meski begitu bank ini tetap meminta masukan dari asosiasi waralaba tentang kelayakan usaha calon debiturnya.

Persyaratan lain yang biasa diminta dari bank terwaralaba adalah surat ijin usaha dan surat perjanjian dengan pewaralaba. Persyaratan lain biasanya sama saja seperti persyaratan kredit biasa.

Bank umumnya juga menganggap terwaralaba yang baru memulai usaha sebagai pemain baru. Karena bank menganggap ada pewaralaba yang akan melatih terwaralaba.

Yang patut dicatat, kredit waralaba ini tidak hanya tersedia untuk usaha terwaralaba. Bank juga menyediakan kredit untuk pewaralaba. Bank Woori Saudara contohnya. Bank ini memiliki produk kredit untuk pewaralaba. Kredit ini bisa digunakan pewaralaba untuk dua tujuan. Satu untuk melakukan ekspansi usaha, seperti membuka cabang baru sendiri. Dua untuk disalurkan lagi ke calon terwaralaba.

Bank-bank juga menyediakan kredit langsung untuk calon terwaralaba. Jika terwaralaba ingin memulai usaha atau menambah cabang baru, bisa mencari pinjaman ke bank. Umumnya kredit untuk waralaba memiliki jangka waktu yang berkisar dua tahun hingga lima tahun.

Modal dan Pinjaman

Koran Surya, 4 Januari 2016
Eko P. Pratomo

Untuk memulai usaha memang sering diperlukan modal berupa dana segar untuk investasi awal pembelian aset atau modal kerja pembelian bahan baku dan biaya operasional usaha.

Adanya kemitraan, memungkinkan seseorang tidak selalu harus memiliki modal uang untuk memulai usaha.

Ketika modal dalam bentuk dana segar yang dibutuhkan tidak bisa dipenuhi seluruhnya dari dana yang dimiliki sendiri, pemilik usaha memiliki alternatif pilihan: mengundang mitra baru yang akan menjadi sesama pemegang saham dengan berbagi kepemilikan (saham) atau mencari pendanaan baru berupa pinjaman.

Untuk usaha baru dan masih memiliki risiko yang cukup besar, opsi untuk memperoleh dana segar adalah dengan mengundang atau mencari mitra sebagai investor lebih diutamakan daripada mencari pendanaan dari berhutang. Memang adanya investor baru akan mengharuskan para pemilik berbagi keuntungan, namun sekaligus akan berbagi risiko.

Jika pemilik usaha dengan berbagai analisis merasa probabilitas bisnis untuk sukses lebih besar daripada risikonya, mengambil opsi pendanaan dari berhutang mungkin lebih baik. Sebab, keuntungan setelah membayar biaya bunga atas pinjaman akan menjadi miliknya, tanpa perlu berbagi dengan mitra usaha.

Pilihan untuk mencari mitra atau pinjaman tidak selalu harus dengan pertimbangan di atas. Persyaratana seperti agunan serta umur usaha yang diminta pemberi pinjaman, kadang tidak bisa dipenuhi oleh pemilik usaha yang baru akan menjalankan usahanya. Sehingga opsi ini sulit untuk dipilih.

Tapi bagi usaha mikro dengan skala tertentu tersedia fasilitas pinjaman dari program pemerintah melalui bank. Misalnya yang memberikan kemudahan bagi pengusaha mikro.

Yang patut diingat, opsi pinjaman selain modal sendiri menimbulkan suatu komposisi sumber dana bagi usaha yang sering disebut rasio hutang terhadap ekuitas. Rasio ini akan memberikan gambaran besar kecilnya risiko finansial bagi suatu usaha.