Koran Surya, 14 Januari 2016
Ellen May
Siapa sangka, profesi sopir yang seringkali dipandang sebelah mata, justru membuat beberapa sopir menjadi miliarder. Siapa saja mereka?
Ada dua orang sopir yang menjadi sangat kaya raya. Mereka cerdik memanfaatkan bosnya yang kaya raya. Adalah sopir Xu Chaihou, seorang petinggi militer di China. Sopir dan juga sekretarisnya sangat kaya raya. Dari mana kekayaan mereka? Kedua orang itu kaya raya karena kedekatan dengan bos mereka.
Sopir kedua yang menjadi kaya karena kedekatan dengan bosnya adalah sopir Li Ka Shing. Li Ka Shing sempat terkejut, karena ketika ia hendak memberikan hadiah uang pensiun sebesar 2 juta dollar HK atau sekitar 3,56 milyar rupiah, sopirnya menolak, karena ia sudah punya simpanan sebesari 20 juta dollar HK, atau sekitar 35,6 milyar rupiah, dan sang sopir sangat berterima kasih kepada Li Ka Shing.
Apa perbedaan kedua sopir tersebut? Sopir Xu Chaihou kaya karena bosnya melakukan korupsi, sopir dan sekretaris tersebut mendapat bagian uang tutup mulut. Setiap uang suap yang masuk, sopir dan sekretaris Xu mendapatkan bagian. Jadi ketika Xu tertangkap, sopir dan sekretarisnya juga turut mendekam di penjara.
Berbeda dengan sopir LI Ka Shing, ia menjadi kaya karena menguping bosnya. Ia mendengar semua pembicaraan Li di telepon dan ketika ia bertemu dengan mitra bisnisnya, ia mengikuti semua langkah-langkah investasi Li Ka Shing. Ketika Li membeli saham, sopirnya juga ikut membeli sebagian kecil. Keberhasilan Li bagaikan virus yang menular ke sopirnya. Sopir Li Ka Shing menuai buahnya ketika puluhan tahun berinvestasi.
Pelajaran yang dapat kita ambil adalah kita bisa berhasil bukan karena kepintaran kita, tapi kepada siapa kita berguru, yaitu pada yang sudah berhasil.
Pelajaran kedua, pasar saham bukanlah sekadar tempat orang berspekulasi. Beberapa orang berhasil trading saham alias berdagang saham, tapi beberapa orang tidak berhasil karena tidak bisa disiplin. Jadi malah berspekulasi. Setelah berspekulasi dengan frekuensi transaksi tinggi dan modal besar, akhirnya banyak yang kapok dan sakit hati terhadap saham.
Tipe Pemula
Banyak yang bertanya, apa yang harus diperhatikan investor pemula? Seorang pemula yang mulai mencicipi saham tidak seharusnya langsung menggunakan modal besar atau bertransaksi frekuensi tinggi.
Beberapa orang, termasuk saya, mempelajari strategi trading dan bisa profil konsisten dalam trading. Namun, tidak semua orang bisa tekun berlatih dengan sabar dan disiplin dalam belajar strategi trading. Jika ingin mencoba trading, sebaiknya coba dengan modal kecil dulu dan pelajari strategi analisis teknikal, money management, dan pengendalian emosi.
Jika anda pemula, mula dengan modal kecil, coba berinvestasi saham dalam rentang waktu setahun dengan metode menabung saham, mengikuti program Yuk Nabung Saham dari BEI baru-baru ini.
Dengan demikian, umur investor dalam berinvestasi saham lebih panjang. Juga bisa merasakan buahnya, bukan investor yang datang karena euforia dan kemudian pergi karena rugi.
Jumat, 26 Februari 2016
Masyarakat Tidak Tahu Jaminan Fidusia
Oleh BNI/SHA
Koran Surya, 15 Desember 2015
Banyak masyarakat tidak paham dalam perjanjian kredit kendaraan bermotor harus ada pendaftaran jaminan fidusia. Sertifikat fidusia harus ditunjukkan ketika terjadi penyitaan kendaraan karena kreditnya bermasalah.
Kepala OJK Malang, Indra Krisna memaparkan, tidak berimbangnya informasi yang diterima kerap mengakibatkan kreditur tidak mengerti fidusia. Sepantasnya juga, pihak debitur atau perusahaan pembiayaan menjelaskan apa itu fidusia.
Pendaftaran fidusia diatur oleh peraturan menteri keuangan dan tata cara jaminan fidusia diatur oleh peraturan pemerintah, sehingga perusahaan pembiayaan harus menyertakan pendaftaran fidusia ketika memberikan kredit kendaraan bermotor.
Sertifikat fidusia harus didaftarkan oleh perusahaan pembiayaan. Setelah didaftarkan, perusahaan menyimpan sertifikat tersebut. Sekalipun begitu, kreditur berhak tahu adanya sertifikat itu. Kreditur juga bisa mendapatkan penggandaan sertifikat.
Sepanjang perjanjian sewa guna usaha atau leasing masih berlaku, hak mlik atas barang objek transaksi berada pada perusahaan pembiayaan. Oleh sebab itu perusahaan pembiayaan berhak menarik barang yang diserahkan kepada kreditur apabila terjadi masalah.
Dengan adanya jaminan fidusia, perusahaan pembiayaan tidak perlu menunggu keputusan pengadilan untuk mengeksekusi barang yang menjadi objek transaksi.
Meskipun demikian, harus ada surat pemberitahuaan terlebih dahulu tentang tunggakan kepada kreditur. Surat pemberitahuaan itu dilayangkan biasanya hingga tiga kali.
Jika kreditur tidak mengindahkan peringatan yang tertuang dalam surat, maka perusahaan pembiayaan bisa menyita. Jika ada konfirmasi dari kreditur, prosedur selanjutnya antara pihak debitur dan kreditur bisa bernegosiasi untuk mencari jalan keluarnya.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130/PMMK.010/2012 tentang pendaftaran fidusia bagi perusahaan pembiayaan yang memberikan pembiayaan konsumen untuk kendaraan bermotor dengan pembebanan jaminan fidusia.
Koran Surya, 15 Desember 2015
Banyak masyarakat tidak paham dalam perjanjian kredit kendaraan bermotor harus ada pendaftaran jaminan fidusia. Sertifikat fidusia harus ditunjukkan ketika terjadi penyitaan kendaraan karena kreditnya bermasalah.
Kepala OJK Malang, Indra Krisna memaparkan, tidak berimbangnya informasi yang diterima kerap mengakibatkan kreditur tidak mengerti fidusia. Sepantasnya juga, pihak debitur atau perusahaan pembiayaan menjelaskan apa itu fidusia.
Pendaftaran fidusia diatur oleh peraturan menteri keuangan dan tata cara jaminan fidusia diatur oleh peraturan pemerintah, sehingga perusahaan pembiayaan harus menyertakan pendaftaran fidusia ketika memberikan kredit kendaraan bermotor.
Sertifikat fidusia harus didaftarkan oleh perusahaan pembiayaan. Setelah didaftarkan, perusahaan menyimpan sertifikat tersebut. Sekalipun begitu, kreditur berhak tahu adanya sertifikat itu. Kreditur juga bisa mendapatkan penggandaan sertifikat.
Sepanjang perjanjian sewa guna usaha atau leasing masih berlaku, hak mlik atas barang objek transaksi berada pada perusahaan pembiayaan. Oleh sebab itu perusahaan pembiayaan berhak menarik barang yang diserahkan kepada kreditur apabila terjadi masalah.
Dengan adanya jaminan fidusia, perusahaan pembiayaan tidak perlu menunggu keputusan pengadilan untuk mengeksekusi barang yang menjadi objek transaksi.
Meskipun demikian, harus ada surat pemberitahuaan terlebih dahulu tentang tunggakan kepada kreditur. Surat pemberitahuaan itu dilayangkan biasanya hingga tiga kali.
Jika kreditur tidak mengindahkan peringatan yang tertuang dalam surat, maka perusahaan pembiayaan bisa menyita. Jika ada konfirmasi dari kreditur, prosedur selanjutnya antara pihak debitur dan kreditur bisa bernegosiasi untuk mencari jalan keluarnya.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130/PMMK.010/2012 tentang pendaftaran fidusia bagi perusahaan pembiayaan yang memberikan pembiayaan konsumen untuk kendaraan bermotor dengan pembebanan jaminan fidusia.
Suku Bunga, Apa Pengaruhnya ke Saham?
Ellen May, Koran Surya 25 Februari 2016
Setelah sekian lama penantian yang menimbulkan ketidakpastian bagi seluruh investor di seluruh dunia, akhirnya Federal Reserve atau bank sentral AS menaikkan suku bunga dari 0-0,25 persen ke 0,25-0,5 persen pada 16 Desember 2015.
Tidak hanya itu, di penghujung tahun 2015, investor juga menanti pengumuman suku bunga Bank Indonesia atau BI rate pada 17 Desember 2015 yang dipertahankan pada level 7,5 persen.
Sebenarnya, apa sih, dampak dari naik atau turunnya suku bunga? Mengapa pengumuman suku bunga sering dinanti oleh investor?
Naik dan turunnya suku bunga itu sendiri juga dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti inflasi, nilai tukar rupiah, defisit nerca pembayaran dan perdangan, juga capital outflow.
Jika inflasi tinggi dan perekonomian memanas, bank sentral cenderung menaikkan suku untuk mengurangi jumlah uang yang beredar. Dengan menaikkan suku bunga maka akan mendorong banyak orang untuk menyimpan uangnya di tabungan dan deposito.
Tidak hanya bunga tabungan saja yang naik, melainkan bunga kredit juga. Ketika bunga kredit naik maka hal ini akan berpengaruh pada pelaku bisnis sehingga mereka mengurangi kredit ke bank. Selain itu, beban bunga yang harus ditanggung perusahaan menjadi semakin besar dan bisa saja mengurangi laba perusahaan.
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika aktivitas menaikkan suku bunga ini seringkali disambut dengan koreksi harga saham karena dianggap dapat berpengaruh pada kinerja perusahaan yang pada akhirnya juga akan berpengaruh pada turunnya harga saham.
Sebaliknya ketika inflasi rendah, perekonomian cenderung lambat, bank sentral cenderung menurunkan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan menurunkan tingkat suku bunga maka masyarakat akan lebih memilih untuk menempatkan dananya pada investasi lain yang lebih tinggi imbal hasilnya seperti pasar modal (reksadana, saham, obligasi), atau memilih investasi lainnya, termasuk memilih untuk menggunakan uangnya untuk berwirausaha.
Dengan demikian maka uang yang beredar menjadi semakin banyak dan perekonomian bisa lebih memanas. Selain itu ketika suku bunga kredit juga semakin murah, sehingga banyak orang yang mengambil kredit di bank untuk menjalankan usahanya, membeli properti, atau membeli kendaraan bermotor.
Beban kredit yang harus ditanggung oleh perusahaan pun menjadi berkurang sehingga bisa berdampak positif pada kinerja perusahaan. Ketika jumlah uang yang beredar semakin banyak, maka daya beli masyarakat semakin meningkat. Hal ini pada akhirnya berpengaruh positif pada pergerakan harga saham.
Beberapa sektor yang sangat peka terhadap perubahan suku bunga antara lain sektor perbankan dan juga sektor properti. Keitka terjadi penurunan suku bunga, kedua sektor ini cenderung langsung merespon positif. Demikian pula kenaikan suku bunga, kedua sektor ini cenderung merespon negatif.
Tidak Terpengaruh
Nah, bagaimana dengan naiknya suku bunga Amerika Serikat yang dilakukan The Fed pada 16 Desember kemarin? Tidak seperti yang diduga oleh kebanyakan orang, aksi naiknya suku bunga yang dilakukan oleh The Fed ini ternyata tidak memberikan dampak yang cukup besar dalam pergerakan harga saham maupun foreign exchange.
Bahkan harga saham cenderung menguat setelah The Fed menaikkan suku bunga setelah hitungan dekade ini. Mengapa bisa demikian?
Hal ini terjadi karena isu naiknya suku bunga sudah terjadi dalam rentang waktu yang cukup lama sehingga investor cenderung sudah siap. Berita kenaikan suku bunga ini cenderung terdiskon di pasar. Selain itu, The Fed menyampaikan kenaikan suku bunga ini dengan bumbu, yaitu membaiknya perekonomian AS, dan masih akan terus membaik.
Nah, demikian ulasan tentang suku bunga serta pengaruhnya terhadap harga saham. Semoga mencerahkan. Salam profit.
Jumat, 27 November 2015
Ada Jackpot di Pasar Saham?
Ellen..
mau dong ikutan saham investasi saham. Gimana caranya? Tapi aku engak mau kalau
suruh baca buku atau belajar di pelatihan. Kasih tahu aja langsung gimana
caranya? To the point. Pokoknya yang penting untung!
Kira-kira begitu bunyi pesan seorang teman yang
dikirimkan melalui twitter saya @pakarsaham beberapa hari lalu. Saya percaya,
bunyi pesan itu juga menjadi isi hati banyak orang yang mau memulai
berinvestasi saham. Teman saya dan banyak orang lain menyebutnya dengan main
saham.
Pola pikir seperti ini sangat banyak dan umum
dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, yaitu pola pikir kaya dalam sehari. Seringkali
orang menganggap saham adalah mesin jackpot yang bisa memberi uang dan kaya
mendadak. Oleh karena itu, banyak yang gagal daripada berhasil dalam
berinvestasi saham. Mengapa? Karena persepsi dan mindset awalnya sudah salah,
yaitu main saham.
Sebenarnya, investasi saham tidak berbeda dengan
investasi lain, seperti properti. Banyak orang cenderung berhasil investasi
properti karena kesadaran investasi tersebut jangka panjang. Sulitnya likuiditas
jual beli properti memberikan sebuah tekanan tersendiri bagi investor, sehingga
akhirnya sadar dan mau lebih selektif memilih properti.
Beda dengan investasi saham. Dalam investasi saham,
setiap hari ada harga yang berjalan dan perubahan harga nampak dalam layar
running trade. Hal ini sangat menarik sekali dan memicu minat investor merealisasikan
keuntungan secepat mungkin untuk mendapatkan fulus besar. Sikap seperti inilah
yang pada akhirnya membawa investor cenderung gambling, berjudi, sikap dan
mental get rich quick.
Tak ayal, lebih banyak yang gagal di saham daripada
di investasi properti. Saya bisa membayangkan, seandainya harga properti
tercantum dalam sebuah papan bursa dan terus bergerak setiap hari seperti
saham, mungkin saja para investor itu berubah menjadi spekulator atau gambler
properti.
Arti sebenarnya saham adalah kepemilikan sebuah
perusahaan. Dengan membeli saham, artinya kita menjadi bagian dari pemilik
sebuah perusahaan. Namun, definisi itu seringkali dilupakan dan hanya menjadi
definisi kosong.
Apa yang sebenarnya harus kita lakukan dalam
berinvestasi saham? Sejatinya, berinvestasi saham bukan judi seperti yang
ditakutkan dan dipikirkan banyak orang. Saham adalah kendaraan investasi. Yang berjudi
adalah manusinya. Manusia bisa memanfaatkan instrumen apapun untuk berjudi,
berspekulasi, seperti halnya saham dan bahkan juga investasi properti.
Masalah mindset
Mindset yang benar dalam membeli saham adalah
seperti seorang calon pemodal, yang menyetorkan sebagian dana ke pengusaha lain
untuk dikembangkan dan dikelola demi mendapatkan keuntungan jangka panjang.
Dalam jangka panjang, keuntungan investasi saham
berupa dividen dan juga kenaikan harga saham yang menyertai naiknya kinerja
perusahaan. Oleh karena itu, penting bagi kita selektif memeriksa kinerja
perusahaan yang mau kita investasikan.
kalau
begitu, kita enggak boleh jual beli jangka pendek, dong? Kalau jangka pendek
itu judi?
Nah, untuk jangka pendek, mindset-nya lain lagi. Sebagai
seorang trader yang memanfaatkan fluktuasi harga saham jangka pendek,
mindset-nya seperti pedagang. Seorang pedagang harus menguasai strategi
perdagangan sesuai bidang masing-masing. Demikian pula pedagang saham alias
para trader saham ini, harus menguasai ilmu analisis teknikal dan pengaturan
keuangan dan risiko serta pengendalian psikologi trading.
Belajar dan mau aktif terus belajar adalah harga
mati bagi seorang trader dan investor saham. Setidaknya itu yang saya alami dan
peljaari dari para investor legendaris dunia seperti Warren Buffett, Peter
Lynch, Sir John Templeton, dan William J O Neil. Tidak ada yan kauak mendadak. Mereka
menghabiskan banyak waktu untuk belajar.
Jika tidak mau belajar, serahkan saja pada manajer
investasi reksadana. Tapi hasilnya tidak sebanyak saham, ya? Itu dia! Jika mau
imbal hasil besar, harus siap dengan risiko yang besar, harus mau pakai helm,
sabuk pengaman, dan alat pengaman lain, yaitu dengan belajar.
Dengan belajar, risiko dapat dikendalikan dan
keuntungan lebih maksimal.
Jalan-jalan ke sawah, ketemu si kancil sedang
termenung dekat bunga mawar.
Investasi saham menjadi mudah, risiko lebih kecil,
untuk besar dengan belajar.
Penulis: Ellen May
Koran Surya, 26 November 2015
Jumat, 14 Agustus 2015
Tulisan Dahlan Iskan: Devaluasi Yuan untuk Jebakan Utang, Setiap Kesulitan Punya Jalan Keluar
Tulisan ini bersumber dari koran Jawa Pos pada tanggal 13 Agustus 2015.
Kenapa tulisan ini saya muat di sini?
Adanya upaya Cina Tiongkok untuk menghadapi kesulitan keuangan membuat saya kagum akan keberanian "kungfu" keuangannya. Selanjutnya, silakan dibaca sendiri.
Hehehe..
----
Sudah satu bulan lamanya ahli ekonomi dunia menunggu dengan harap-harap cemas. Permainan kungfu apa yang akan diperlihatkan Tiongkok untuk mengalahkan musuh ekonominya yang sangat sulit diatasi saat ini: jebakan utang.
Sebagian ahli sudah meramal, kinilah saatnya Tiongkok benar-benar akan hancur. Tidak mampu keluar dari kesulitan yang begitu sulit dan menjebak.
Rupanya, devaluasi mata uang yuan hampir 2 persen yang diumumkan dua hari lalu itulah jurus kungfu yang dimainkan. Untuk keluar dari puncak kesulitannya saat ini. Cerdas sekali.
Tiongkok selama ini memang dikenal selalu punya jurus baru. Selalu bisa mementahkan keraguan para analis ekonomi dunia. Dari negara yang begitu miskin dengan beban penduduk yang begitu besar, mestinya tidak mungkin Tiongkok bisa keluar dari kemiskinan. Apalagi dalam waktu yang begitu cepat. Bahkan berhasil menjadi negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia dalam waktu singkat.
Tapi, belakangan ini persoalan ekonomi yang dihadapi Tiongkok begitu berat. Bahkan sudah terlihat melingkar-lingkar, membelit dan membelenggu. Sampai mencapai tahap yang disebut "jebakan utang".
Utang Tiongkok yang semula dipakai untuk membiayai kemajuannya itu kini sudah sampai pada tingkat menjebaknya. Pelaku ekonomi, pelaku keuangan, juga pelaku pasar modal menanti-nanti dengan saksama jurus apa yang disiapkan Tiongkok untuk keluar dari jebakan itu.
Begitu beratnya persoalan itu, sampai ada yang bertanya begini: Mungkinkah kali ini Tiongkok juga berhasil melakukan chi kung untuk melompati jebakan itu? Atau kali ini akan gagal?
Rupanya, inilah yang dilakukan Tiongkok: devaluasi. Memang kurang dari 2 persen, tapi cukup mengguncangkan dunia. Bisa-bisa memicu perang mata uang dunia. Bisa-bisa kita yang berada di Indonesia tiba-tiba saja jadi korban perang. Kita tidak boleh diam.
Kita di Indonesia saat ini juga sedang menghadapi satu jenis jebakan yang kelasnya lebih rendah daripada itu: jebakan kelas menengah. Tiongkok sudah berhasil mengatasi jebakan itu 15 tahun yang lalu. Sehingga pembangunan ekonominya tidak terhenti di tengah jalan. Berhasil terus tumbuh tinggi. Hingga mencapai prestasinya sekarang ini.
Kita masih harus mencari jurus untuk mengatasi jebakan kelas menengah kita itu. Kalau berhasil, kita akan bisa terus meraih kemajuan. Kalau gagal, langkah kita akan terhenti. Dan kita akan terbelit dengan persoalan yang muter-muter. Bisa berpuluh tahun lamanya.
Kalau dengan devaluasi itu berhasil mengatasi jebakan utangnya, Tiongkok akan terus berkembang menjadi kekuatan ekonomi nomor satu dunia. Mengalahkan Amerika Serikat. Dalam waktu hanya 15 tahun.
Kalau kali ini gagal mengulang sukses melewati jebakan-jebakannya, Tiongkok terpaksa akan mengalami apa yang pernah dialami Jepang. Pertumbuhan ekonominya berhenti. Selama 20 tahun.
Sejak tahun 1990-an sampai menjelang 2010 lalu, ekonomi Jepang hanya tumbuh nol persen (kadang sedikit di atas nol, kadang minus sedikit di bawah nol). Waktu itu, kalau orang Jepang menempatkan uang di bank, bukannya mendapat bunga, bahkan harus membayar uang administrasi.
Tapi, jangan dibayangkan hal itu menjadi sebuah bencana. Berhentinya ekonomi Jepang adalah berhentinya ekonomi sebuah negara yang telanjur menjadi kaya raya. Ia tidak menjadi miskin. Hanya berhenti untuk menjadi lebih kaya lagi.
Demikian juga Tiongkok nanti. Kalaupun Tiongkok kali ini gagal keluar dari jebakan utang, itu akan mirip dengan apa yang dialami Jepang. Jangan-jangan memang begitulah hukum alam untuk menjadi negara kaya. Harus melewati satu masa konsolidasi yang sulit, menyakitkan dan panjang.
Bedanya, saat Jepang mengalami itu, demokrasinya sudah sangat matang. Tiongkok belum menjadi negara demokrasi. Entah itu kekuatan atau kelemahan. Mungkin saja itu justru menjadi kekuatan daripada, misalnya, masih dalam status negara demokrasi setengah matang.
Jebakan utang Tiongkok itu terlihat dari angka ini:
1. Utang negara dan utang perusahaan di Tiongkok sudah mencapai USD 26 triliun. Tertinggi di dunia.
2. Utang itu sudah mencapai rasio 250 persen dari GDB Tiongkok yang sekitar USD 10 triliun.
3. Rasio sebesar itu dalam doktrin negara-negara Eropa sudah memasuki tahap yang perlu di-bailout. Artinya, kalau tidak di-bailout, memasuki tahap kebangkrutan.
4. Untuk menurunkan rasio itu, utangnya tidak boleh tambah, tapi ekonominya harus tumbuh tinggi. Atau, utangnya boleh tambah sedikit, tapi pertumbuhan ekonominya harus tumbuh besar.
5. Secara teori, tanpa tambah utang, ekonomi tidak mungkin tumbuh. Di sinilah jebakannya itu.
6. Suku bunga harus rendah. Tapi, tanpa utang baru, likuiditas akan ketat. Itu berarti suku bunga pinjaman atau obligasi akan terpaksa tinggi. Di sini terlihat juga jebakannya.
Kenyataan di atas sudah mirip persoalan ayam dan telur. Bahkan sudah masuk ke persoalan buah simalakama. Hanya, berbeda dengan negara lain, masih banyak faktor positif yang dimiliki Tiongkok:
1. Cadangan devisanya USD 4 triliun. Tertinggi di dunia. Negara lain akan berada dalam bahaya kalau cadangan devisanya hanya cukup untuk membiayai impor selama dua minggu. Cadangan devisa Tiongkok itu bisa digunakan untuk membiayai impornya selama, wooww, beberapa tahun.
2. Hitungan GDB Tiongkok tadi belum termasuk kekayaan CIC, perusahaan investasi negara yang melakukan investasi di luar negeri.
3. Pengendalian jumlah penduduknya berhasil. Karena itu, pemberian izin untuk memiliki lebih dari satu anak dilakukan dengan sangat selektif.
4. Utang-utang luar negeri tersebut umumnya berbentuk mata uang renminbi/yuan. Bukan dolar. Itu tidak akan menggerus cadangan devisa.
Saya sudah menduga Tiongkok akan memainkan yuan untuk mengatasi jebakan utangnya itu. Tapi, saya tidak menduga kalau devaluasi yang akhirnya dilakukan.
Semua kesulitan ternyata ada jalan keluarnya. Setinggi apa pun kesulitan itu.
Kenapa tulisan ini saya muat di sini?
Adanya upaya Cina Tiongkok untuk menghadapi kesulitan keuangan membuat saya kagum akan keberanian "kungfu" keuangannya. Selanjutnya, silakan dibaca sendiri.
Hehehe..
----
Sudah satu bulan lamanya ahli ekonomi dunia menunggu dengan harap-harap cemas. Permainan kungfu apa yang akan diperlihatkan Tiongkok untuk mengalahkan musuh ekonominya yang sangat sulit diatasi saat ini: jebakan utang.
Sebagian ahli sudah meramal, kinilah saatnya Tiongkok benar-benar akan hancur. Tidak mampu keluar dari kesulitan yang begitu sulit dan menjebak.
Rupanya, devaluasi mata uang yuan hampir 2 persen yang diumumkan dua hari lalu itulah jurus kungfu yang dimainkan. Untuk keluar dari puncak kesulitannya saat ini. Cerdas sekali.
Tiongkok selama ini memang dikenal selalu punya jurus baru. Selalu bisa mementahkan keraguan para analis ekonomi dunia. Dari negara yang begitu miskin dengan beban penduduk yang begitu besar, mestinya tidak mungkin Tiongkok bisa keluar dari kemiskinan. Apalagi dalam waktu yang begitu cepat. Bahkan berhasil menjadi negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia dalam waktu singkat.
Tapi, belakangan ini persoalan ekonomi yang dihadapi Tiongkok begitu berat. Bahkan sudah terlihat melingkar-lingkar, membelit dan membelenggu. Sampai mencapai tahap yang disebut "jebakan utang".
Utang Tiongkok yang semula dipakai untuk membiayai kemajuannya itu kini sudah sampai pada tingkat menjebaknya. Pelaku ekonomi, pelaku keuangan, juga pelaku pasar modal menanti-nanti dengan saksama jurus apa yang disiapkan Tiongkok untuk keluar dari jebakan itu.
Begitu beratnya persoalan itu, sampai ada yang bertanya begini: Mungkinkah kali ini Tiongkok juga berhasil melakukan chi kung untuk melompati jebakan itu? Atau kali ini akan gagal?
Rupanya, inilah yang dilakukan Tiongkok: devaluasi. Memang kurang dari 2 persen, tapi cukup mengguncangkan dunia. Bisa-bisa memicu perang mata uang dunia. Bisa-bisa kita yang berada di Indonesia tiba-tiba saja jadi korban perang. Kita tidak boleh diam.
Kita di Indonesia saat ini juga sedang menghadapi satu jenis jebakan yang kelasnya lebih rendah daripada itu: jebakan kelas menengah. Tiongkok sudah berhasil mengatasi jebakan itu 15 tahun yang lalu. Sehingga pembangunan ekonominya tidak terhenti di tengah jalan. Berhasil terus tumbuh tinggi. Hingga mencapai prestasinya sekarang ini.
Kita masih harus mencari jurus untuk mengatasi jebakan kelas menengah kita itu. Kalau berhasil, kita akan bisa terus meraih kemajuan. Kalau gagal, langkah kita akan terhenti. Dan kita akan terbelit dengan persoalan yang muter-muter. Bisa berpuluh tahun lamanya.
Kalau dengan devaluasi itu berhasil mengatasi jebakan utangnya, Tiongkok akan terus berkembang menjadi kekuatan ekonomi nomor satu dunia. Mengalahkan Amerika Serikat. Dalam waktu hanya 15 tahun.
Kalau kali ini gagal mengulang sukses melewati jebakan-jebakannya, Tiongkok terpaksa akan mengalami apa yang pernah dialami Jepang. Pertumbuhan ekonominya berhenti. Selama 20 tahun.
Sejak tahun 1990-an sampai menjelang 2010 lalu, ekonomi Jepang hanya tumbuh nol persen (kadang sedikit di atas nol, kadang minus sedikit di bawah nol). Waktu itu, kalau orang Jepang menempatkan uang di bank, bukannya mendapat bunga, bahkan harus membayar uang administrasi.
Tapi, jangan dibayangkan hal itu menjadi sebuah bencana. Berhentinya ekonomi Jepang adalah berhentinya ekonomi sebuah negara yang telanjur menjadi kaya raya. Ia tidak menjadi miskin. Hanya berhenti untuk menjadi lebih kaya lagi.
Demikian juga Tiongkok nanti. Kalaupun Tiongkok kali ini gagal keluar dari jebakan utang, itu akan mirip dengan apa yang dialami Jepang. Jangan-jangan memang begitulah hukum alam untuk menjadi negara kaya. Harus melewati satu masa konsolidasi yang sulit, menyakitkan dan panjang.
Bedanya, saat Jepang mengalami itu, demokrasinya sudah sangat matang. Tiongkok belum menjadi negara demokrasi. Entah itu kekuatan atau kelemahan. Mungkin saja itu justru menjadi kekuatan daripada, misalnya, masih dalam status negara demokrasi setengah matang.
Jebakan utang Tiongkok itu terlihat dari angka ini:
1. Utang negara dan utang perusahaan di Tiongkok sudah mencapai USD 26 triliun. Tertinggi di dunia.
2. Utang itu sudah mencapai rasio 250 persen dari GDB Tiongkok yang sekitar USD 10 triliun.
3. Rasio sebesar itu dalam doktrin negara-negara Eropa sudah memasuki tahap yang perlu di-bailout. Artinya, kalau tidak di-bailout, memasuki tahap kebangkrutan.
4. Untuk menurunkan rasio itu, utangnya tidak boleh tambah, tapi ekonominya harus tumbuh tinggi. Atau, utangnya boleh tambah sedikit, tapi pertumbuhan ekonominya harus tumbuh besar.
5. Secara teori, tanpa tambah utang, ekonomi tidak mungkin tumbuh. Di sinilah jebakannya itu.
6. Suku bunga harus rendah. Tapi, tanpa utang baru, likuiditas akan ketat. Itu berarti suku bunga pinjaman atau obligasi akan terpaksa tinggi. Di sini terlihat juga jebakannya.
Kenyataan di atas sudah mirip persoalan ayam dan telur. Bahkan sudah masuk ke persoalan buah simalakama. Hanya, berbeda dengan negara lain, masih banyak faktor positif yang dimiliki Tiongkok:
1. Cadangan devisanya USD 4 triliun. Tertinggi di dunia. Negara lain akan berada dalam bahaya kalau cadangan devisanya hanya cukup untuk membiayai impor selama dua minggu. Cadangan devisa Tiongkok itu bisa digunakan untuk membiayai impornya selama, wooww, beberapa tahun.
2. Hitungan GDB Tiongkok tadi belum termasuk kekayaan CIC, perusahaan investasi negara yang melakukan investasi di luar negeri.
3. Pengendalian jumlah penduduknya berhasil. Karena itu, pemberian izin untuk memiliki lebih dari satu anak dilakukan dengan sangat selektif.
4. Utang-utang luar negeri tersebut umumnya berbentuk mata uang renminbi/yuan. Bukan dolar. Itu tidak akan menggerus cadangan devisa.
Saya sudah menduga Tiongkok akan memainkan yuan untuk mengatasi jebakan utangnya itu. Tapi, saya tidak menduga kalau devaluasi yang akhirnya dilakukan.
Semua kesulitan ternyata ada jalan keluarnya. Setinggi apa pun kesulitan itu.
Trading For Living
"Bisakah kita menggantungkan penghasilan dari trading?"
"Apakah trading for living itu?"
Istilah trading for living akhir-akhir ini sering saya baca di media sosial. Biasanya berasal dari share di facebook atau di twitter. Saya jarang men-share berita-berita atau tautan di medsos.
Hehehe..
Trading for living (TfL) adalah beraktivitas beli-jual instrumen investasi, antara lain saham, valuta, ataupun komoditas. Hasil dari aktivitas tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan seharian.
TfL menjadi tren karena memberikan kebebasan tempat dan waktu untuk dilakukan. Peminat aktivitas TfL tidak terikat jam kerja, tidak bekerja di kantor. Alasan ini yang memikat banyak orang untuk melakukannya.
Nah, bagi pemula yang hendak terjun melakukan TfL, apa saja yang diperlukan untuk melakukannya? Berikut beberapa poin menarik untuk dijadikan pertimbangan sebelum mengambil keputusan TfL.
1. Hitung biaya hidup setiap bulan. Aktivitas TfL berarti kita melakukan trading atau jual beli untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akan sangat konyol bila kita keluar dari pekerjaan yang memberi penghasilan, lalu menggantungkan hidup pada TfL, namun kita tidak mengetahui berapa kebutuhan perbulan atau perhari dinilai dari keuangan. Trader yang belum menikah tentu berbeda nilai kebutuhannya dengan yang sudah berkeluarga.
Trader harus menghitung berapa yang didapat dari aktivitas TfL, berapa kebutuhan hidup, maupun biaya lain. Biaya lain ini meliputi investasi, asuransi, cicilan, atau tabungan. Melakukan hitung-hitungan ini merupakan hal yang personal. Semakin detil semakin baik, karena hal tersebut membuat kita menjadi memahami pola konsumsi maupun investasi kita.
Cek kemampun trading selama beberapa bulan sebelum memutuskan TfL.Berapa persen keuntungan yang kita raih? Rule of thumb, untuk trader pemula, akan sangat bagus bila menghasilkan rata-rata keuntungan lima persen perbulan.
2. Pahami modal yang kita miliki. Kita harus tahu berapa yang harus dikumpulkan perbulan untuk memenuhi target kebutuhan hidup, berapa profit yang dihasilkan perbulan. Kedua variabel tersebut, bisa dihitung kebutuhan modal. Pada contoh di atas, kebutuhan hidup adalah Rp 5 juta, kemampuan menghasilkan profit setidaknya lima persen perbulan.Maka modal yang harus dimliki adalah minimal Rp 100 juta. (100 juta x 5 % = 5 juta).
Itu adalah modal untuk menutup kebutuhan hidup.
Jika kita ingin mendapatkan lebih banyak, maka bisa diinvestasikan ulang atau menyiapkan biaya hal-hal darurat, demi menghasilkan profit lebih dari Rp 5 juta.
Ketiga hal tersebut, yaitu modal, profit, serta kebutuhan hidup, sepertinya sederhana. Namun sering menjerumuskan. Sangat riskan bila satu saja tidak terpenuhi.
Lalu, bagaimana bila kita tidak bisa menghasilkan profit sebesar kebutuhan hidup saat ini dalam sebulan?
Pertama, kita harus menekan biaya hidup. Lakukan penghematan. Potong pos-pos yang tidak penting dan penting. Misalnya, biaya entertainmen, biaya transportasi (lakukan bila urgen), mengurangi biaya makan, dsb.
Kedua, skill. Pelajari strategi dan hal-hal teknis terkait trading, memahami analisis teknis, manajemen uang, maupun psikologi trading.
Trader yang ingin TfL namun tidak mau belajar teknis, seperti nahkoda kapal pesiar namun tidak mengikuti pendidikan nahkoda.
Lalu, bagaimana mendapatkan modal untul melakukan trading?
saya sarankan, untuk menggunakan uang "sisa atau dana menganggur". Tidak saya sarankan untuk menggunakan uang pinjaman, kredit, baik itu dari saudara, teman, atau bank.
Dana menganggur di sini berarti dana kelebihan yang bisa "diikhlaskan" bila kita mengalami loss atau kerugian.
Trading dengan uang pinjaman akan menghasilkan tekanan psikologi lebih besar daripada dana menganggur.
"Apakah trading for living itu?"
Istilah trading for living akhir-akhir ini sering saya baca di media sosial. Biasanya berasal dari share di facebook atau di twitter. Saya jarang men-share berita-berita atau tautan di medsos.
Hehehe..
Trading for living (TfL) adalah beraktivitas beli-jual instrumen investasi, antara lain saham, valuta, ataupun komoditas. Hasil dari aktivitas tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan seharian.
TfL menjadi tren karena memberikan kebebasan tempat dan waktu untuk dilakukan. Peminat aktivitas TfL tidak terikat jam kerja, tidak bekerja di kantor. Alasan ini yang memikat banyak orang untuk melakukannya.
Nah, bagi pemula yang hendak terjun melakukan TfL, apa saja yang diperlukan untuk melakukannya? Berikut beberapa poin menarik untuk dijadikan pertimbangan sebelum mengambil keputusan TfL.
1. Hitung biaya hidup setiap bulan. Aktivitas TfL berarti kita melakukan trading atau jual beli untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akan sangat konyol bila kita keluar dari pekerjaan yang memberi penghasilan, lalu menggantungkan hidup pada TfL, namun kita tidak mengetahui berapa kebutuhan perbulan atau perhari dinilai dari keuangan. Trader yang belum menikah tentu berbeda nilai kebutuhannya dengan yang sudah berkeluarga.
Trader harus menghitung berapa yang didapat dari aktivitas TfL, berapa kebutuhan hidup, maupun biaya lain. Biaya lain ini meliputi investasi, asuransi, cicilan, atau tabungan. Melakukan hitung-hitungan ini merupakan hal yang personal. Semakin detil semakin baik, karena hal tersebut membuat kita menjadi memahami pola konsumsi maupun investasi kita.
Cek kemampun trading selama beberapa bulan sebelum memutuskan TfL.Berapa persen keuntungan yang kita raih? Rule of thumb, untuk trader pemula, akan sangat bagus bila menghasilkan rata-rata keuntungan lima persen perbulan.
2. Pahami modal yang kita miliki. Kita harus tahu berapa yang harus dikumpulkan perbulan untuk memenuhi target kebutuhan hidup, berapa profit yang dihasilkan perbulan. Kedua variabel tersebut, bisa dihitung kebutuhan modal. Pada contoh di atas, kebutuhan hidup adalah Rp 5 juta, kemampuan menghasilkan profit setidaknya lima persen perbulan.Maka modal yang harus dimliki adalah minimal Rp 100 juta. (100 juta x 5 % = 5 juta).
Itu adalah modal untuk menutup kebutuhan hidup.
Jika kita ingin mendapatkan lebih banyak, maka bisa diinvestasikan ulang atau menyiapkan biaya hal-hal darurat, demi menghasilkan profit lebih dari Rp 5 juta.
Ketiga hal tersebut, yaitu modal, profit, serta kebutuhan hidup, sepertinya sederhana. Namun sering menjerumuskan. Sangat riskan bila satu saja tidak terpenuhi.
Lalu, bagaimana bila kita tidak bisa menghasilkan profit sebesar kebutuhan hidup saat ini dalam sebulan?
Pertama, kita harus menekan biaya hidup. Lakukan penghematan. Potong pos-pos yang tidak penting dan penting. Misalnya, biaya entertainmen, biaya transportasi (lakukan bila urgen), mengurangi biaya makan, dsb.
Kedua, skill. Pelajari strategi dan hal-hal teknis terkait trading, memahami analisis teknis, manajemen uang, maupun psikologi trading.
Trader yang ingin TfL namun tidak mau belajar teknis, seperti nahkoda kapal pesiar namun tidak mengikuti pendidikan nahkoda.
Lalu, bagaimana mendapatkan modal untul melakukan trading?
saya sarankan, untuk menggunakan uang "sisa atau dana menganggur". Tidak saya sarankan untuk menggunakan uang pinjaman, kredit, baik itu dari saudara, teman, atau bank.
Dana menganggur di sini berarti dana kelebihan yang bisa "diikhlaskan" bila kita mengalami loss atau kerugian.
Trading dengan uang pinjaman akan menghasilkan tekanan psikologi lebih besar daripada dana menganggur.
Perkenalan
Halo,
Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya ini. Blog ini berisikan tulisan saya dan tulisan pungutan dari berbagai sumber. Tentu sumber pungutan akan saya cantumkan pada akhir tulisan.
Tidak ada batasan berapa persen tulisan saya dan tulisan tersebut. Akan saya posting sesuka hati saya.
Tentu, sesuai judul blog ini, tulisan yang terposting akan dibatasi yang berhubungan dengan finansial secara light, mudah, serta aplikatif. Tetapi tidak akan menutup kemungkinan akan berisi sesuatu yang mendasar atau juga opini tentang kejadian yang sedang terjadi.
Lalu, siapakah saya?
Untuk beberapa lama, anda bisa memanggil saya admin.
Identitas pribadi cukup nanti saja saya buka.
Hehehe.
Akhirul kalam,
wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam damai sejahtera untuk kita semua.
Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya ini. Blog ini berisikan tulisan saya dan tulisan pungutan dari berbagai sumber. Tentu sumber pungutan akan saya cantumkan pada akhir tulisan.
Tidak ada batasan berapa persen tulisan saya dan tulisan tersebut. Akan saya posting sesuka hati saya.
Tentu, sesuai judul blog ini, tulisan yang terposting akan dibatasi yang berhubungan dengan finansial secara light, mudah, serta aplikatif. Tetapi tidak akan menutup kemungkinan akan berisi sesuatu yang mendasar atau juga opini tentang kejadian yang sedang terjadi.
Lalu, siapakah saya?
Untuk beberapa lama, anda bisa memanggil saya admin.
Identitas pribadi cukup nanti saja saya buka.
Hehehe.
Akhirul kalam,
wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam damai sejahtera untuk kita semua.
Langganan:
Postingan (Atom)
