"Bisakah kita menggantungkan penghasilan dari trading?"
"Apakah trading for living itu?"
Istilah trading for living akhir-akhir ini sering saya baca di media sosial. Biasanya berasal dari share di facebook atau di twitter. Saya jarang men-share berita-berita atau tautan di medsos.
Hehehe..
Trading for living (TfL) adalah beraktivitas beli-jual instrumen investasi, antara lain saham, valuta, ataupun komoditas. Hasil dari aktivitas tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan seharian.
TfL menjadi tren karena memberikan kebebasan tempat dan waktu untuk dilakukan. Peminat aktivitas TfL tidak terikat jam kerja, tidak bekerja di kantor. Alasan ini yang memikat banyak orang untuk melakukannya.
Nah, bagi pemula yang hendak terjun melakukan TfL, apa saja yang diperlukan untuk melakukannya? Berikut beberapa poin menarik untuk dijadikan pertimbangan sebelum mengambil keputusan TfL.
1. Hitung biaya hidup setiap bulan. Aktivitas TfL berarti kita melakukan trading atau jual beli untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akan sangat konyol bila kita keluar dari pekerjaan yang memberi penghasilan, lalu menggantungkan hidup pada TfL, namun kita tidak mengetahui berapa kebutuhan perbulan atau perhari dinilai dari keuangan. Trader yang belum menikah tentu berbeda nilai kebutuhannya dengan yang sudah berkeluarga.
Trader harus menghitung berapa yang didapat dari aktivitas TfL, berapa kebutuhan hidup, maupun biaya lain. Biaya lain ini meliputi investasi, asuransi, cicilan, atau tabungan. Melakukan hitung-hitungan ini merupakan hal yang personal. Semakin detil semakin baik, karena hal tersebut membuat kita menjadi memahami pola konsumsi maupun investasi kita.
Cek kemampun trading selama beberapa bulan sebelum memutuskan TfL.Berapa persen keuntungan yang kita raih? Rule of thumb, untuk trader pemula, akan sangat bagus bila menghasilkan rata-rata keuntungan lima persen perbulan.
2. Pahami modal yang kita miliki. Kita harus tahu berapa yang harus dikumpulkan perbulan untuk memenuhi target kebutuhan hidup, berapa profit yang dihasilkan perbulan. Kedua variabel tersebut, bisa dihitung kebutuhan modal. Pada contoh di atas, kebutuhan hidup adalah Rp 5 juta, kemampuan menghasilkan profit setidaknya lima persen perbulan.Maka modal yang harus dimliki adalah minimal Rp 100 juta. (100 juta x 5 % = 5 juta).
Itu adalah modal untuk menutup kebutuhan hidup.
Jika kita ingin mendapatkan lebih banyak, maka bisa diinvestasikan ulang atau menyiapkan biaya hal-hal darurat, demi menghasilkan profit lebih dari Rp 5 juta.
Ketiga hal tersebut, yaitu modal, profit, serta kebutuhan hidup, sepertinya sederhana. Namun sering menjerumuskan. Sangat riskan bila satu saja tidak terpenuhi.
Lalu, bagaimana bila kita tidak bisa menghasilkan profit sebesar kebutuhan hidup saat ini dalam sebulan?
Pertama, kita harus menekan biaya hidup. Lakukan penghematan. Potong pos-pos yang tidak penting dan penting. Misalnya, biaya entertainmen, biaya transportasi (lakukan bila urgen), mengurangi biaya makan, dsb.
Kedua, skill. Pelajari strategi dan hal-hal teknis terkait trading, memahami analisis teknis, manajemen uang, maupun psikologi trading.
Trader yang ingin TfL namun tidak mau belajar teknis, seperti nahkoda kapal pesiar namun tidak mengikuti pendidikan nahkoda.
Lalu, bagaimana mendapatkan modal untul melakukan trading?
saya sarankan, untuk menggunakan uang "sisa atau dana menganggur". Tidak saya sarankan untuk menggunakan uang pinjaman, kredit, baik itu dari saudara, teman, atau bank.
Dana menganggur di sini berarti dana kelebihan yang bisa "diikhlaskan" bila kita mengalami loss atau kerugian.
Trading dengan uang pinjaman akan menghasilkan tekanan psikologi lebih besar daripada dana menganggur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar