Jumat, 27 November 2015

Ada Jackpot di Pasar Saham?

Ellen.. mau dong ikutan saham investasi saham. Gimana caranya? Tapi aku engak mau kalau suruh baca buku atau belajar di pelatihan. Kasih tahu aja langsung gimana caranya? To the point. Pokoknya yang penting untung!

Kira-kira begitu bunyi pesan seorang teman yang dikirimkan melalui twitter saya @pakarsaham beberapa hari lalu. Saya percaya, bunyi pesan itu juga menjadi isi hati banyak orang yang mau memulai berinvestasi saham. Teman saya dan banyak orang lain menyebutnya dengan main saham.

Pola pikir seperti ini sangat banyak dan umum dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, yaitu pola pikir kaya dalam sehari. Seringkali orang menganggap saham adalah mesin jackpot yang bisa memberi uang dan kaya mendadak. Oleh karena itu, banyak yang gagal daripada berhasil dalam berinvestasi saham. Mengapa? Karena persepsi dan mindset awalnya sudah salah, yaitu main saham.

Sebenarnya, investasi saham tidak berbeda dengan investasi lain, seperti properti. Banyak orang cenderung berhasil investasi properti karena kesadaran investasi tersebut jangka panjang. Sulitnya likuiditas jual beli properti memberikan sebuah tekanan tersendiri bagi investor, sehingga akhirnya sadar dan mau lebih selektif memilih properti.

Beda dengan investasi saham. Dalam investasi saham, setiap hari ada harga yang berjalan dan perubahan harga nampak dalam layar running trade. Hal ini sangat menarik sekali dan memicu minat investor merealisasikan keuntungan secepat mungkin untuk mendapatkan fulus besar. Sikap seperti inilah yang pada akhirnya membawa investor cenderung gambling, berjudi, sikap dan mental get rich quick.

Tak ayal, lebih banyak yang gagal di saham daripada di investasi properti. Saya bisa membayangkan, seandainya harga properti tercantum dalam sebuah papan bursa dan terus bergerak setiap hari seperti saham, mungkin saja para investor itu berubah menjadi spekulator atau gambler properti.

Arti sebenarnya saham adalah kepemilikan sebuah perusahaan. Dengan membeli saham, artinya kita menjadi bagian dari pemilik sebuah perusahaan. Namun, definisi itu seringkali dilupakan dan hanya menjadi definisi kosong.

Apa yang sebenarnya harus kita lakukan dalam berinvestasi saham? Sejatinya, berinvestasi saham bukan judi seperti yang ditakutkan dan dipikirkan banyak orang. Saham adalah kendaraan investasi. Yang berjudi adalah manusinya. Manusia bisa memanfaatkan instrumen apapun untuk berjudi, berspekulasi, seperti halnya saham dan bahkan juga investasi properti.

Masalah mindset

Mindset yang benar dalam membeli saham adalah seperti seorang calon pemodal, yang menyetorkan sebagian dana ke pengusaha lain untuk dikembangkan dan dikelola demi mendapatkan keuntungan jangka panjang.

Dalam jangka panjang, keuntungan investasi saham berupa dividen dan juga kenaikan harga saham yang menyertai naiknya kinerja perusahaan. Oleh karena itu, penting bagi kita selektif memeriksa kinerja perusahaan yang mau kita investasikan.

kalau begitu, kita enggak boleh jual beli jangka pendek, dong? Kalau jangka pendek itu judi?

Nah, untuk jangka pendek, mindset-nya lain lagi. Sebagai seorang trader yang memanfaatkan fluktuasi harga saham jangka pendek, mindset-nya seperti pedagang. Seorang pedagang harus menguasai strategi perdagangan sesuai bidang masing-masing. Demikian pula pedagang saham alias para trader saham ini, harus menguasai ilmu analisis teknikal dan pengaturan keuangan dan risiko serta pengendalian psikologi trading.

Belajar dan mau aktif terus belajar adalah harga mati bagi seorang trader dan investor saham. Setidaknya itu yang saya alami dan peljaari dari para investor legendaris dunia seperti Warren Buffett, Peter Lynch, Sir John Templeton, dan William J O Neil. Tidak ada yan kauak mendadak. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk belajar.

Jika tidak mau belajar, serahkan saja pada manajer investasi reksadana. Tapi hasilnya tidak sebanyak saham, ya? Itu dia! Jika mau imbal hasil besar, harus siap dengan risiko yang besar, harus mau pakai helm, sabuk pengaman, dan alat pengaman lain, yaitu dengan belajar.

Dengan belajar, risiko dapat dikendalikan dan keuntungan lebih maksimal.

Jalan-jalan ke sawah, ketemu si kancil sedang termenung dekat bunga mawar.

Investasi saham menjadi mudah, risiko lebih kecil, untuk besar dengan belajar.

Penulis: Ellen May
Koran Surya, 26 November 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar