Ellen..
mau dong ikutan saham investasi saham. Gimana caranya? Tapi aku engak mau kalau
suruh baca buku atau belajar di pelatihan. Kasih tahu aja langsung gimana
caranya? To the point. Pokoknya yang penting untung!
Kira-kira begitu bunyi pesan seorang teman yang
dikirimkan melalui twitter saya @pakarsaham beberapa hari lalu. Saya percaya,
bunyi pesan itu juga menjadi isi hati banyak orang yang mau memulai
berinvestasi saham. Teman saya dan banyak orang lain menyebutnya dengan main
saham.
Pola pikir seperti ini sangat banyak dan umum
dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, yaitu pola pikir kaya dalam sehari. Seringkali
orang menganggap saham adalah mesin jackpot yang bisa memberi uang dan kaya
mendadak. Oleh karena itu, banyak yang gagal daripada berhasil dalam
berinvestasi saham. Mengapa? Karena persepsi dan mindset awalnya sudah salah,
yaitu main saham.
Sebenarnya, investasi saham tidak berbeda dengan
investasi lain, seperti properti. Banyak orang cenderung berhasil investasi
properti karena kesadaran investasi tersebut jangka panjang. Sulitnya likuiditas
jual beli properti memberikan sebuah tekanan tersendiri bagi investor, sehingga
akhirnya sadar dan mau lebih selektif memilih properti.
Beda dengan investasi saham. Dalam investasi saham,
setiap hari ada harga yang berjalan dan perubahan harga nampak dalam layar
running trade. Hal ini sangat menarik sekali dan memicu minat investor merealisasikan
keuntungan secepat mungkin untuk mendapatkan fulus besar. Sikap seperti inilah
yang pada akhirnya membawa investor cenderung gambling, berjudi, sikap dan
mental get rich quick.
Tak ayal, lebih banyak yang gagal di saham daripada
di investasi properti. Saya bisa membayangkan, seandainya harga properti
tercantum dalam sebuah papan bursa dan terus bergerak setiap hari seperti
saham, mungkin saja para investor itu berubah menjadi spekulator atau gambler
properti.
Arti sebenarnya saham adalah kepemilikan sebuah
perusahaan. Dengan membeli saham, artinya kita menjadi bagian dari pemilik
sebuah perusahaan. Namun, definisi itu seringkali dilupakan dan hanya menjadi
definisi kosong.
Apa yang sebenarnya harus kita lakukan dalam
berinvestasi saham? Sejatinya, berinvestasi saham bukan judi seperti yang
ditakutkan dan dipikirkan banyak orang. Saham adalah kendaraan investasi. Yang berjudi
adalah manusinya. Manusia bisa memanfaatkan instrumen apapun untuk berjudi,
berspekulasi, seperti halnya saham dan bahkan juga investasi properti.
Masalah mindset
Mindset yang benar dalam membeli saham adalah
seperti seorang calon pemodal, yang menyetorkan sebagian dana ke pengusaha lain
untuk dikembangkan dan dikelola demi mendapatkan keuntungan jangka panjang.
Dalam jangka panjang, keuntungan investasi saham
berupa dividen dan juga kenaikan harga saham yang menyertai naiknya kinerja
perusahaan. Oleh karena itu, penting bagi kita selektif memeriksa kinerja
perusahaan yang mau kita investasikan.
kalau
begitu, kita enggak boleh jual beli jangka pendek, dong? Kalau jangka pendek
itu judi?
Nah, untuk jangka pendek, mindset-nya lain lagi. Sebagai
seorang trader yang memanfaatkan fluktuasi harga saham jangka pendek,
mindset-nya seperti pedagang. Seorang pedagang harus menguasai strategi
perdagangan sesuai bidang masing-masing. Demikian pula pedagang saham alias
para trader saham ini, harus menguasai ilmu analisis teknikal dan pengaturan
keuangan dan risiko serta pengendalian psikologi trading.
Belajar dan mau aktif terus belajar adalah harga
mati bagi seorang trader dan investor saham. Setidaknya itu yang saya alami dan
peljaari dari para investor legendaris dunia seperti Warren Buffett, Peter
Lynch, Sir John Templeton, dan William J O Neil. Tidak ada yan kauak mendadak. Mereka
menghabiskan banyak waktu untuk belajar.
Jika tidak mau belajar, serahkan saja pada manajer
investasi reksadana. Tapi hasilnya tidak sebanyak saham, ya? Itu dia! Jika mau
imbal hasil besar, harus siap dengan risiko yang besar, harus mau pakai helm,
sabuk pengaman, dan alat pengaman lain, yaitu dengan belajar.
Dengan belajar, risiko dapat dikendalikan dan
keuntungan lebih maksimal.
Jalan-jalan ke sawah, ketemu si kancil sedang
termenung dekat bunga mawar.
Investasi saham menjadi mudah, risiko lebih kecil,
untuk besar dengan belajar.
Penulis: Ellen May
Koran Surya, 26 November 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar