Tulisan ini bersumber dari koran Jawa Pos pada tanggal 13 Agustus 2015.
Kenapa tulisan ini saya muat di sini?
Adanya upaya Cina Tiongkok untuk menghadapi kesulitan keuangan membuat saya kagum akan keberanian "kungfu" keuangannya. Selanjutnya, silakan dibaca sendiri.
Hehehe..
----
Sudah satu bulan
lamanya ahli ekonomi dunia menunggu dengan harap-harap cemas. Permainan
kungfu apa yang akan diperlihatkan Tiongkok untuk mengalahkan musuh
ekonominya yang sangat sulit diatasi saat ini: jebakan utang.
Sebagian ahli sudah meramal, kinilah saatnya Tiongkok benar-benar akan
hancur. Tidak mampu keluar dari kesulitan yang begitu sulit dan
menjebak.
Rupanya, devaluasi mata uang yuan hampir 2 persen yang diumumkan dua
hari lalu itulah jurus kungfu yang dimainkan. Untuk keluar dari puncak
kesulitannya saat ini. Cerdas sekali.
Tiongkok selama ini memang dikenal selalu punya jurus baru. Selalu bisa
mementahkan keraguan para analis ekonomi dunia. Dari negara yang begitu
miskin dengan beban penduduk yang begitu besar, mestinya tidak mungkin
Tiongkok bisa keluar dari kemiskinan. Apalagi dalam waktu yang begitu
cepat. Bahkan berhasil menjadi negara dengan ekonomi terbesar kedua di
dunia dalam waktu singkat.
Tapi, belakangan ini persoalan ekonomi yang dihadapi Tiongkok begitu
berat. Bahkan sudah terlihat melingkar-lingkar, membelit dan
membelenggu. Sampai mencapai tahap yang disebut "jebakan utang".
Utang Tiongkok yang semula dipakai untuk membiayai kemajuannya itu kini
sudah sampai pada tingkat menjebaknya. Pelaku ekonomi, pelaku keuangan,
juga pelaku pasar modal menanti-nanti dengan saksama jurus apa yang
disiapkan Tiongkok untuk keluar dari jebakan itu.
Begitu beratnya persoalan itu, sampai ada yang bertanya begini:
Mungkinkah kali ini Tiongkok juga berhasil melakukan chi kung untuk
melompati jebakan itu? Atau kali ini akan gagal?
Rupanya, inilah yang dilakukan Tiongkok: devaluasi. Memang kurang dari 2
persen, tapi cukup mengguncangkan dunia. Bisa-bisa memicu perang mata
uang dunia. Bisa-bisa kita yang berada di Indonesia tiba-tiba saja jadi
korban perang. Kita tidak boleh diam.
Kita di Indonesia saat ini juga sedang menghadapi satu jenis jebakan
yang kelasnya lebih rendah daripada itu: jebakan kelas menengah.
Tiongkok sudah berhasil mengatasi jebakan itu 15 tahun yang lalu.
Sehingga pembangunan ekonominya tidak terhenti di tengah jalan. Berhasil
terus tumbuh tinggi. Hingga mencapai prestasinya sekarang ini.
Kita masih harus mencari jurus untuk mengatasi jebakan kelas menengah
kita itu. Kalau berhasil, kita akan bisa terus meraih kemajuan. Kalau
gagal, langkah kita akan terhenti. Dan kita akan terbelit dengan
persoalan yang muter-muter. Bisa berpuluh tahun lamanya.
Kalau dengan devaluasi itu berhasil mengatasi jebakan utangnya, Tiongkok
akan terus berkembang menjadi kekuatan ekonomi nomor satu dunia.
Mengalahkan Amerika Serikat. Dalam waktu hanya 15 tahun.
Kalau kali ini gagal mengulang sukses melewati jebakan-jebakannya,
Tiongkok terpaksa akan mengalami apa yang pernah dialami Jepang.
Pertumbuhan ekonominya berhenti. Selama 20 tahun.
Sejak tahun 1990-an sampai menjelang 2010 lalu, ekonomi Jepang hanya
tumbuh nol persen (kadang sedikit di atas nol, kadang minus sedikit di
bawah nol). Waktu itu, kalau orang Jepang menempatkan uang di bank,
bukannya mendapat bunga, bahkan harus membayar uang administrasi.
Tapi, jangan dibayangkan hal itu menjadi sebuah bencana. Berhentinya
ekonomi Jepang adalah berhentinya ekonomi sebuah negara yang telanjur
menjadi kaya raya. Ia tidak menjadi miskin. Hanya berhenti untuk menjadi
lebih kaya lagi.
Demikian juga Tiongkok nanti. Kalaupun Tiongkok kali ini gagal keluar
dari jebakan utang, itu akan mirip dengan apa yang dialami Jepang.
Jangan-jangan memang begitulah hukum alam untuk menjadi negara kaya.
Harus melewati satu masa konsolidasi yang sulit, menyakitkan dan
panjang.
Bedanya, saat Jepang mengalami itu, demokrasinya sudah sangat matang.
Tiongkok belum menjadi negara demokrasi. Entah itu kekuatan atau
kelemahan. Mungkin saja itu justru menjadi kekuatan daripada, misalnya,
masih dalam status negara demokrasi setengah matang.
Jebakan utang Tiongkok itu terlihat dari angka ini:
1. Utang negara dan utang perusahaan di Tiongkok sudah mencapai USD 26 triliun. Tertinggi di dunia.
2. Utang itu sudah mencapai rasio 250 persen dari GDB Tiongkok yang sekitar USD 10 triliun.
3. Rasio sebesar itu dalam doktrin negara-negara Eropa sudah
memasuki tahap yang perlu di-bailout. Artinya, kalau tidak di-bailout,
memasuki tahap kebangkrutan.
4. Untuk menurunkan rasio itu, utangnya tidak boleh tambah, tapi
ekonominya harus tumbuh tinggi. Atau, utangnya boleh tambah sedikit,
tapi pertumbuhan ekonominya harus tumbuh besar.
5. Secara teori, tanpa tambah utang, ekonomi tidak mungkin tumbuh. Di sinilah jebakannya itu.
6. Suku bunga harus rendah. Tapi, tanpa utang baru, likuiditas akan
ketat. Itu berarti suku bunga pinjaman atau obligasi akan terpaksa
tinggi. Di sini terlihat juga jebakannya.
Kenyataan di atas sudah mirip persoalan ayam dan telur. Bahkan sudah
masuk ke persoalan buah simalakama. Hanya, berbeda dengan negara lain,
masih banyak faktor positif yang dimiliki Tiongkok:
1. Cadangan devisanya USD 4 triliun. Tertinggi di dunia. Negara lain
akan berada dalam bahaya kalau cadangan devisanya hanya cukup untuk
membiayai impor selama dua minggu. Cadangan devisa Tiongkok itu bisa
digunakan untuk membiayai impornya selama, wooww, beberapa tahun.
2. Hitungan GDB Tiongkok tadi belum termasuk kekayaan CIC, perusahaan investasi negara yang melakukan investasi di luar negeri.
3. Pengendalian jumlah penduduknya berhasil. Karena itu, pemberian izin
untuk memiliki lebih dari satu anak dilakukan dengan sangat selektif.
4. Utang-utang luar negeri tersebut umumnya berbentuk mata uang
renminbi/yuan. Bukan dolar. Itu tidak akan menggerus cadangan devisa.
Saya sudah menduga Tiongkok akan memainkan yuan untuk mengatasi jebakan
utangnya itu. Tapi, saya tidak menduga kalau devaluasi yang akhirnya
dilakukan.
Semua kesulitan ternyata ada jalan keluarnya. Setinggi apa pun kesulitan itu.
Jumat, 14 Agustus 2015
Trading For Living
"Bisakah kita menggantungkan penghasilan dari trading?"
"Apakah trading for living itu?"
Istilah trading for living akhir-akhir ini sering saya baca di media sosial. Biasanya berasal dari share di facebook atau di twitter. Saya jarang men-share berita-berita atau tautan di medsos.
Hehehe..
Trading for living (TfL) adalah beraktivitas beli-jual instrumen investasi, antara lain saham, valuta, ataupun komoditas. Hasil dari aktivitas tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan seharian.
TfL menjadi tren karena memberikan kebebasan tempat dan waktu untuk dilakukan. Peminat aktivitas TfL tidak terikat jam kerja, tidak bekerja di kantor. Alasan ini yang memikat banyak orang untuk melakukannya.
Nah, bagi pemula yang hendak terjun melakukan TfL, apa saja yang diperlukan untuk melakukannya? Berikut beberapa poin menarik untuk dijadikan pertimbangan sebelum mengambil keputusan TfL.
1. Hitung biaya hidup setiap bulan. Aktivitas TfL berarti kita melakukan trading atau jual beli untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akan sangat konyol bila kita keluar dari pekerjaan yang memberi penghasilan, lalu menggantungkan hidup pada TfL, namun kita tidak mengetahui berapa kebutuhan perbulan atau perhari dinilai dari keuangan. Trader yang belum menikah tentu berbeda nilai kebutuhannya dengan yang sudah berkeluarga.
Trader harus menghitung berapa yang didapat dari aktivitas TfL, berapa kebutuhan hidup, maupun biaya lain. Biaya lain ini meliputi investasi, asuransi, cicilan, atau tabungan. Melakukan hitung-hitungan ini merupakan hal yang personal. Semakin detil semakin baik, karena hal tersebut membuat kita menjadi memahami pola konsumsi maupun investasi kita.
Cek kemampun trading selama beberapa bulan sebelum memutuskan TfL.Berapa persen keuntungan yang kita raih? Rule of thumb, untuk trader pemula, akan sangat bagus bila menghasilkan rata-rata keuntungan lima persen perbulan.
2. Pahami modal yang kita miliki. Kita harus tahu berapa yang harus dikumpulkan perbulan untuk memenuhi target kebutuhan hidup, berapa profit yang dihasilkan perbulan. Kedua variabel tersebut, bisa dihitung kebutuhan modal. Pada contoh di atas, kebutuhan hidup adalah Rp 5 juta, kemampuan menghasilkan profit setidaknya lima persen perbulan.Maka modal yang harus dimliki adalah minimal Rp 100 juta. (100 juta x 5 % = 5 juta).
Itu adalah modal untuk menutup kebutuhan hidup.
Jika kita ingin mendapatkan lebih banyak, maka bisa diinvestasikan ulang atau menyiapkan biaya hal-hal darurat, demi menghasilkan profit lebih dari Rp 5 juta.
Ketiga hal tersebut, yaitu modal, profit, serta kebutuhan hidup, sepertinya sederhana. Namun sering menjerumuskan. Sangat riskan bila satu saja tidak terpenuhi.
Lalu, bagaimana bila kita tidak bisa menghasilkan profit sebesar kebutuhan hidup saat ini dalam sebulan?
Pertama, kita harus menekan biaya hidup. Lakukan penghematan. Potong pos-pos yang tidak penting dan penting. Misalnya, biaya entertainmen, biaya transportasi (lakukan bila urgen), mengurangi biaya makan, dsb.
Kedua, skill. Pelajari strategi dan hal-hal teknis terkait trading, memahami analisis teknis, manajemen uang, maupun psikologi trading.
Trader yang ingin TfL namun tidak mau belajar teknis, seperti nahkoda kapal pesiar namun tidak mengikuti pendidikan nahkoda.
Lalu, bagaimana mendapatkan modal untul melakukan trading?
saya sarankan, untuk menggunakan uang "sisa atau dana menganggur". Tidak saya sarankan untuk menggunakan uang pinjaman, kredit, baik itu dari saudara, teman, atau bank.
Dana menganggur di sini berarti dana kelebihan yang bisa "diikhlaskan" bila kita mengalami loss atau kerugian.
Trading dengan uang pinjaman akan menghasilkan tekanan psikologi lebih besar daripada dana menganggur.
"Apakah trading for living itu?"
Istilah trading for living akhir-akhir ini sering saya baca di media sosial. Biasanya berasal dari share di facebook atau di twitter. Saya jarang men-share berita-berita atau tautan di medsos.
Hehehe..
Trading for living (TfL) adalah beraktivitas beli-jual instrumen investasi, antara lain saham, valuta, ataupun komoditas. Hasil dari aktivitas tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan seharian.
TfL menjadi tren karena memberikan kebebasan tempat dan waktu untuk dilakukan. Peminat aktivitas TfL tidak terikat jam kerja, tidak bekerja di kantor. Alasan ini yang memikat banyak orang untuk melakukannya.
Nah, bagi pemula yang hendak terjun melakukan TfL, apa saja yang diperlukan untuk melakukannya? Berikut beberapa poin menarik untuk dijadikan pertimbangan sebelum mengambil keputusan TfL.
1. Hitung biaya hidup setiap bulan. Aktivitas TfL berarti kita melakukan trading atau jual beli untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akan sangat konyol bila kita keluar dari pekerjaan yang memberi penghasilan, lalu menggantungkan hidup pada TfL, namun kita tidak mengetahui berapa kebutuhan perbulan atau perhari dinilai dari keuangan. Trader yang belum menikah tentu berbeda nilai kebutuhannya dengan yang sudah berkeluarga.
Trader harus menghitung berapa yang didapat dari aktivitas TfL, berapa kebutuhan hidup, maupun biaya lain. Biaya lain ini meliputi investasi, asuransi, cicilan, atau tabungan. Melakukan hitung-hitungan ini merupakan hal yang personal. Semakin detil semakin baik, karena hal tersebut membuat kita menjadi memahami pola konsumsi maupun investasi kita.
Cek kemampun trading selama beberapa bulan sebelum memutuskan TfL.Berapa persen keuntungan yang kita raih? Rule of thumb, untuk trader pemula, akan sangat bagus bila menghasilkan rata-rata keuntungan lima persen perbulan.
2. Pahami modal yang kita miliki. Kita harus tahu berapa yang harus dikumpulkan perbulan untuk memenuhi target kebutuhan hidup, berapa profit yang dihasilkan perbulan. Kedua variabel tersebut, bisa dihitung kebutuhan modal. Pada contoh di atas, kebutuhan hidup adalah Rp 5 juta, kemampuan menghasilkan profit setidaknya lima persen perbulan.Maka modal yang harus dimliki adalah minimal Rp 100 juta. (100 juta x 5 % = 5 juta).
Itu adalah modal untuk menutup kebutuhan hidup.
Jika kita ingin mendapatkan lebih banyak, maka bisa diinvestasikan ulang atau menyiapkan biaya hal-hal darurat, demi menghasilkan profit lebih dari Rp 5 juta.
Ketiga hal tersebut, yaitu modal, profit, serta kebutuhan hidup, sepertinya sederhana. Namun sering menjerumuskan. Sangat riskan bila satu saja tidak terpenuhi.
Lalu, bagaimana bila kita tidak bisa menghasilkan profit sebesar kebutuhan hidup saat ini dalam sebulan?
Pertama, kita harus menekan biaya hidup. Lakukan penghematan. Potong pos-pos yang tidak penting dan penting. Misalnya, biaya entertainmen, biaya transportasi (lakukan bila urgen), mengurangi biaya makan, dsb.
Kedua, skill. Pelajari strategi dan hal-hal teknis terkait trading, memahami analisis teknis, manajemen uang, maupun psikologi trading.
Trader yang ingin TfL namun tidak mau belajar teknis, seperti nahkoda kapal pesiar namun tidak mengikuti pendidikan nahkoda.
Lalu, bagaimana mendapatkan modal untul melakukan trading?
saya sarankan, untuk menggunakan uang "sisa atau dana menganggur". Tidak saya sarankan untuk menggunakan uang pinjaman, kredit, baik itu dari saudara, teman, atau bank.
Dana menganggur di sini berarti dana kelebihan yang bisa "diikhlaskan" bila kita mengalami loss atau kerugian.
Trading dengan uang pinjaman akan menghasilkan tekanan psikologi lebih besar daripada dana menganggur.
Perkenalan
Halo,
Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya ini. Blog ini berisikan tulisan saya dan tulisan pungutan dari berbagai sumber. Tentu sumber pungutan akan saya cantumkan pada akhir tulisan.
Tidak ada batasan berapa persen tulisan saya dan tulisan tersebut. Akan saya posting sesuka hati saya.
Tentu, sesuai judul blog ini, tulisan yang terposting akan dibatasi yang berhubungan dengan finansial secara light, mudah, serta aplikatif. Tetapi tidak akan menutup kemungkinan akan berisi sesuatu yang mendasar atau juga opini tentang kejadian yang sedang terjadi.
Lalu, siapakah saya?
Untuk beberapa lama, anda bisa memanggil saya admin.
Identitas pribadi cukup nanti saja saya buka.
Hehehe.
Akhirul kalam,
wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam damai sejahtera untuk kita semua.
Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya ini. Blog ini berisikan tulisan saya dan tulisan pungutan dari berbagai sumber. Tentu sumber pungutan akan saya cantumkan pada akhir tulisan.
Tidak ada batasan berapa persen tulisan saya dan tulisan tersebut. Akan saya posting sesuka hati saya.
Tentu, sesuai judul blog ini, tulisan yang terposting akan dibatasi yang berhubungan dengan finansial secara light, mudah, serta aplikatif. Tetapi tidak akan menutup kemungkinan akan berisi sesuatu yang mendasar atau juga opini tentang kejadian yang sedang terjadi.
Lalu, siapakah saya?
Untuk beberapa lama, anda bisa memanggil saya admin.
Identitas pribadi cukup nanti saja saya buka.
Hehehe.
Akhirul kalam,
wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam damai sejahtera untuk kita semua.
Langganan:
Komentar (Atom)